Skip to content

KRIMINOLOGI SEBUAH PENGANTAR

March 29, 2010

PENGANTAR KRIMINOLOGI
A. LATAR BELAKANG
Criminology merupakan ilmu pengetahuan yang baru berkembang pada abad ke 19, bersamaan dengan berkembangnya sosiologi. Kelahiran criminology didorong oleh aliran positivisme. Tapi elemen-elemen criminology telah dikenalkan oleh para filosof yunani kuno yaitu plato (427-347 SM ) dalam bukunya Republiec, antara lain menyatakan bahwa gold human merupakan sumber crimen merupakan sumber crimen. Aristotle (382-322 SM) menyatakan property menimbulkan crimen and rebellion. Kelahiran criminology sebagai ilmu pengetahuan,karena pidana baik materiil maupun formal serta system penghukuman sudah tidak efektif lg untuk mencegah dan membrantas kejahatan, bahkan kejahatan semakin meningkat dalam berbagai aspek kehidupan.dengan tidak efektifnya hukum pidana ,maka para ahli piker mulai mengadakan penelitian bukan pada aturan-aturan hukum yang mengenai kejahatan atau bertalian dengan pidana,tapi objeknya adalah orang yang melakukan kejahatan itu sendiri.
Tujuan untuk mengetahui apa sebab-sebabnya sehingga sampai ia berbuat jahat itu. Apakah memeng karena bakat dan kerakternya adalah jahat, ataukah di dorong oleh keadaan sosiologi maupun ekonomis, Ataukah ada sebab-sebab lain lagi.jika sebab-sebab itu sudah diketahui, maka disamping pemidanahan,dapat dilakukan tindakan-tindakan baik pencegahan,diagnose maupaun pemberantasan yang tepat, agar orang tersebut tidak lagi berbuat jahat atau agar orang-orang laintidak akan melakukanya. Penelitian tersebut mulai dirintis oleh J. Graunt (1620-1674), yang menerapkan statistic dengan membuat daftar angka-angka dan menemukan bahwa jumlah kematian dan kelahiran dari tahun ke tahun selalu kembali dengan teratur sekali (Topo Santoso,S.H,M.H Eva Achyani Zulfar S.H :2001 :4) : Quittelet (1850), juga mengadakan penelitian dengan pencatatan kejahatan yang dilukiskan dalam angka-angka agar diperoleh keterangan menyeluruh dari keadaan kejahatan sebagai gejala social. Hasil penelitian dengan statestik criminal dapat dipergunakan untuk menentukan tindakan-tindakan yang harus diambil dari kejahatan,agar diperoleh reaksi yang tepat bagi tiap-tiap bentuk kejahatan atau sesuai dengan keadaan penjahat dengan menggunakan kebijakan criminal. (Prof.DR. Bambang Peornomo,S.H,1976 : 41).
Serjana lain yaitu G. Von Mayr (1841-1825) bahwa dalam perkembangan antara tingkat pencurian dengan tingkat harga gandum terdapat kesejajaran.Tiap-tiap kenaikan harga gandum 5 sen dalam tahun 1835-1861 di Bayern,jumlah pencurian bartambah 1 (satu) diantara 100.000 penduduk ( Tono Santoso S.H,M.H, Eva Achyani Zulfa,S.H,2001 : 5) Dengan hasil penelitian-penelitian tersebut,maka sejak itulah criminology menjadi ilmu pengetahuan yang mandiri, oleh karena itu pada konferensi tentang pencegahan kejahatan dan tindakan terhadap deliquen yang diselenggarakan oleh international Non Govermental Organization atas bantuan PBB di jenewa pada tanggal 17 Desember 1952, antara lain memberi rekomendasi agar kriminologi diajarkan di Universitas yang lulusanya akan bekerja dalam bidang penegakan hukum seperti Polisi, Pengacara, Jaksa, Hakim dan Pegawai Pemasyarakatan.

B. TUJUAN MEMPELAJARI KRIMINOLOGI
Tujuan secara umum adalah untuk mempelajari kejahatan dari berbagai aspek, sehingga diharapkan dapat memperoleh pemahaman mengenai fenomena kejahatan dengan lebih baik. Tujuan secara kongkrit untuk :
1. Bahan masukan pada membuat Undang-Undang (pembuatan\pencabutan Undang-Undang).
2. Bahan masukan bagi aparat penegak hukum dalam proses penegakan hukum dan pencegahan kejahatan non penal terutama Polri.
3. Memberikan informasi kepada semua instansi agar melaksanakan fungsi-fungsi yang diembannya secara konsisten dan konsekwen untuk mencegah tejadi kejahatan.
4. Memberikan informasi kepada perusahan-prusahan melaksanakan pengamatan internal secara ketat dan teridentifikasi serta melaksanakan fungsi social dalam areal wilayah perusahan yang mempunyai fungsi pengamanan external untuk mencegah terjadi kejahatan.
5. Memberikan informasi kepada masyarakat pemukiman, tempat- tempat umum untuk membuntuk pengamanan swakarsa dalam mencegah terjadi kejahatan.

C. PENGERTIAN KRIMINOLOGI
Secara etimologis,kriminologi berasal dari kata crimen yang berarti kejahan dan logos berarti ilmu atau pengetahuan. Jadi kriminologi adalah ilmu\pengetahuan tentang kejahatan. Istilah kriminologi untuk pertama kali digunakan oleh P.Topinand (1879),ahli antropologi prancis. Sebulumnya menggunakan istilah antrolpologi criminal.
Menurut E.H Sutherland, kriminologi adalah seperangkat pengetahuan yang mempelajari kejahatan sebagai fenomena social, termasuk di dalamnya proses pembuatan Undang-Undang, pelanggaran Undang-Undang bahkan aliran modern yang diorganisasikan oleh Von List menghendaki kriminologi bergabung dengan hukum pidana sebagai ilmu bantuanya, agar bersama-sama menangani hasil penelitian “kebijakan criminal”, sehingga memungkinkan memberikan petunjuk tepat terhadap penanganan hukum pidana dan pelaksanaanya, yang semuanya ditunjukan untuk melindungi “warga Negara yang baik”dari penjahat. George C. Vold mengatakan bahwa dalam mempelajari kriminologi terdapat masalah rangkap,artinya, kriminologi selalu menunjukan pada perbutan manusia dan juga batasan-batasan atau pandangan pada perbuatan manusia dan juga batasan-batasan atau pandangan masyarakat tentang apa yang dibolehkan dan ada apa yang dilarang,apa yang baik dan yang buruk,yang semuanya itu terdapat dalam Undang-Undang, kebiasaan dan adat-istiadat. E.Durkheim,seorang pakar sosiologi masyarakat, kejahatan bukan saja normal, dalam arti tidak ada masyarakat tanpa kejahatan.
Kejahatan merupakan sesuatu yang diperlukan, sebab ciri setiap masyarakat adalah dinamis, dan perbuatan yang telah menggerakan masyarakat tersebut pada mulanya seringkali disebut kejahatan, misalnya dengan dijatuhkannya hukuman mati terhadap Socrates.
Kejahatan bukanlah fenomena alamiah,melainkan fenomena social dan histories, sebab tindakan menjadi kejahatan haruslah dikenal, diberi cap dan ditanggapi sebagai kejahatan, disana harus ada masyarakat yang normanya, aturanya dan hukumnya dilanggar, disamping adanya lembaga yang tugasnya menegakan norma-norma dan menghukum pelanggarnanya. Sutherland. mengatakan kriminologi mencakup proses-proses pembuatan hukum pelanggaran hukum dan reaksi atas pelanggar hukum.
Menurut Paul Moedigdo Moeliono, kriminologi bahwa pelaku kejahatan mempunyai andil atas terjadinya suatu kejahatan, karena terjadinya kejahatan bukan semata-mata perbuatan yang ditentang oleh masyarakat.
Jadi kriminologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari kejahatan sebagai masalah manusia. Michel dan Adler, berpendapat, kriminologi adalah keseluruhan keterangan mengenai perbuatan dan sifat dari para penjahat, lingkungan mereka dengan cara mereka secara resmi diperlukan oleh lembaga-lembaga penerbit masyarakat. Wood, menyatakan istilah kriminologi meliputi keseluruhan pengetahuan yang diperoleh berdasarkan teori atau pengalaman yang bertalian dengan perbuatan jahat dan penjahat, termasuk didalamnya reaksi dari masyarakat terhadap perbuatan jahat dan para penjahat. Noach, menyebutkan kriminologi adalah ilmu pengetahuan tentang perbuatan jahat dan prilaku tercela yang menyangkut orang-orang yang terlibat dalam prilaku jahat dan perbuatan tercela itu.
Wolfgang, Savitya dan Johnston dalam buku The Sociology of Crime and Delinquency, memberi pengertian sebagai kumpulan ilmu pengetahuan tentang kejahatan yang bertujuan untuk memperoleh pengetahuan mengenai gejala kejahatan dengan jalan mengadakan penelitian data kejahatan menganalisis secara ilmiah keterangan- keterangan, keseragaman-keseragaman, pola-pola dan factor-faktor kausal yang berhubungan dengan kejahatan,pelaku kejahatan serta reaksi masyarakat terhadap keduanya.
Kriminologi juga merupakan pengertian hukum yaitu perbuatan manusia yang dapat dipidana oleh hukum pidana oleh hukum pidana.tetapi kriminologi bukan semata-mata merupakan batasan Undang-Undang artinya ada perbuatan-perbuatan tertentu yang oleh masyarakat dipandang sebagai jahat, tetapi Undang-Undang tidak menyatakan sebagai kejahatan atau tidak dinyatakan sebagai tindak pidana,begitu pula sebaliknya, Dalam hukum pidana orang seringkali membedakan delik hukum (Rechts Delicten atau Mala perse) khusus nyata tindak pidana yang disebut kejahatan (Buku II KUHP)dan delik Undang-Undang (Wetsdelicten atau Mala Prohibita)yang berupa pelenggaran (Buku II KUHP). Mengenai perbedaan antara mala perse dengan mala prohibita dewasa ini banyak dipertanyakan orang yaitu apakah semua tindak pidana itu sebenarnya merupakan kejahatan. Oleh karena itu, perbuatan tersebut oleh Undang-Undang ditunjuk atau dijadihkan kejahatan (Tindak Pidana).Dalam RKUHP sudah tidak ada perbedaan istilah kejahatan (mal per se) dan istilah pelenggaraan (mal prohibita) hanya mengenal satu istilah yaitu tindak pidana.
Oleh karena itu dalam ilmu pengetehuan,kriminologi masuk dan terletak dalam kelompok ilmu pengatuhan social. Dalam realita,kejahatan tidak hanya berkaitan dengan hukum pidana,tapi juga terdapat hubungan baik dengan norna-norma agama,ada masyarakat yang menerapkan norma-norna adapt kebiasaan yang telah ditentukan oleh nenek moyangnya.

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 277 other followers

%d bloggers like this: