Skip to content

Bahan Makalah Seminar (Awal)

November 10, 2009

Perumusan Permasalahan
Sering dijumpai usulan penelitian yang memuat “latar belakang permasalahan” secara panjang lebar tetapi tidak diakhiri (atau disusul) oleh rumusan (pernyataan) permasalahan. Pernyataan permasalahan sebenarnya merupakan kesimpulan dari uraian “latar belakang” tersebut. Castetter dan Heisler (1984, 11) menerangkan bahwa pernyataan permasalahan merupakan ungkapan yang jelas tentang hal-hal yang akan dilakukan peneliti. Cara terbaik unutk mengungkapkan pernyataan tersebut adalah dengan pernyataan yang sederhana dan langsung, tidak berbelit-belit. Pernyataan permasalahan dari suatu penelitian merupakan “jantung” penelitian dan berfungsi sebagai pengarah bagi semua upaya dalam kegiatan penelitian tersebut. Pernyataan permasalahan yang jelas (tajam) akan sanggup memberi arah (gambaran) tentang macam data yang diperlukan, cara pengolahannya yang cocok, dan memberi batas lingkup tertentu pada temuan yang dihasilkan.
Contoh ungkapan permasalahan yang jelas, tajam, diberikan oleh Sumiarto (1985) yang meneliti dalam bidang perumahan pedesaan. Permasalahan yang dikemukakannya, sebagai berikut: “Kesimpulan yang dapat ditarik sebagai permasalahan P3D [Perintisan Pemugaran Perumahan Desa] yang dapat memberikan arah pada studi yang akan dilakukan adalah mempertanyakan keberhasilan dari tujuan P3D. Secara lebih spesifik dapat dikemukakan beberapa (sub) permasalahan
sebagai berikut:
a) Apakah setelah menerima bantuan P3D, kondisi mereka akan menjadi lebih baik, dalam arti adanya peningkatan dalam cara bermukin yang lebih baik serta lebih sehat?
b) Apakah bantuan yang diberikan oleh P3D telah memberikan hasil sesuai seperti yang diharapkan, yaitu penerima bantuan telah memberikan respon yang positif yang berupa tenaga, material, bahkan finansial, sehingga lebih dari apa yang diberikan oleh P3D.
c) Lebih jauh lagi, apakah P3D telah mampu membangkitkan efek berlifat ganda (multiplier effect), sehingga masyarakat yang tidak meneriman bantuan P3D terangsang secara swadata menyelenggarakan sendiri peningkatan kondisi rumah dan lingkungannya?”
(Sumiarto 1985, 17-18)

Bentuk Rumusan Permasalahan
Contoh pernyataan permasalahan di atas mengambil bentuk satu pernyataan disusul oleh beberapa pertanyaan. Castette dan Heisler (1984, 11) menjelaskan bahwa secara keseluruhan ada 5 macam bentuk pernyataan permasalahan, yaitu:
(1) bentuk satu pertanyaan (question);
(2) bentuk satu pertanyaan umum disusul oleh beberapa pertanyaan yang spesifik;
(3) bentuk satu penyataan (statement) disusul oleh beberapa pertanyaan (question).
(4) bentuk hipotesis; dan
(1) bentuk pernyataan umum disusul oleh beberapa hipotesis.

Bentuk Hipotesis nampaknya jarang dipakai lagi pula, biasanya perletakan hipotesis dalam laporan atau usulan penelitian tidak menempati posisi yang biasa ditempati oleh pernyataan permasalahan. Hal yang lain, bentuk pertanyaan seringkali dapat diujudkan (diubah) pula sebagai bentuk pernyataan. Dengan demikian, secara umum, hanya ada dua bentuk pernyataan permasalahan:
(1) Bentuk satu pertanyaan atau pernyataan
Misal:
a) Pertanyaan:
“Seberapa pengaruh tingkat penghasilan pada perubahan fisik rumah perumahan KPR?” “Faktor-faktor apa saja dan seberapa besar pengaruh masing-masing factor pada persepsi penghuni terhadap desain rumah sub–inti?”
b) Pernyataan (biasanya diungkapkan sebagai “maksud”) “Maksud penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa pengaruh tingkat penghasilan pada perubahan fisik rumah perumahan KPR.” “Maksud penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa saja dan seberapa besar pengaruh masing-masing faktor pad persepsi terhadap desain rumah sub–inti.
(2) Bentuk satu pertanyaan atau pernyataan umum disusul oleh beberapa pertanyaan atau pernyataan yang spesifik (Catatan: kebanyakan permasalahan terlalu besar atau kompleks sehingga perlu dirinci)
Misal: Permasalahan umum: Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi hasil desain seorang arsitek dan seberapa pengaruh tiap-tiap faktor? Lebih spesifik lagi, permasalahan dalam penelitian ini dapat dirinci sebagai berikut:
a. Apakah sekian faktor yang mempengaruhi hasil desain seorang arsitek secara umum di Amerika Serikat terjadi pula di Indonesia?
b. Seberapa besar pengaruh faktor-faktor tersebut mempengaruhi hasil desain arstiek di Indonesia?

Karakteristik Rincian Permasalahan
Karakteristik tiap rincian permasalahan atau sub-problema (menurut Leedy, 1997:56-57) sebagai berikut:
1) Setiap rincian permasalahan haruslah merupakan satuan yang dapat diteliti (a researchable unit ).
2) Setiap rincian terkait dengan interpretasi data.
3) Semua rincian permasalahan perlu terintegrasi menjadi satu kesatuan permasalahan yang lebih besar (sistemik).
4) Rincian yang penting saja yang diteliti (tidak perlu semua rincian permasalahan diteliti)
5) Hindari rincian permasalahan yang pengatasannya tidak realistik.

Contoh Rumusan Permasalahan
Di bawah ini diberikan beberapa contoh rumusan masalah, sebagai berikut: “. . . . . . . permasalahan sebagai berikut: Apakah kalsium hidroksida mempunyai pengaruh sitotoksik terhadap sel fibroblast embrio Gallus domesticus secara in Vitro, dan apakah besar konsentrasi kalsium hidroksida berpengaruh terhadap sifat sitotoksisitasnya?”
“. . . . . . . . . dengan penelitian ini ingin diketahui faktor – faktor apa yang dapat mempengaruhi perilaku ibu – ibu dalam menangani diare pada bayi dan anak balita.

PENULISAN TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan Pustaka mempunyai arti: peninjauan kembali pustaka-pustaka yang terkait (review of related literature). Sesuai dengan arti tersebut, suatu tinjauan pustaka berfungsi sebagai peninjauan kembali (review) pustaka (laporan penelitian, dan sebagainya) tentang masalah yang berkaitan—tidak selalu harus tepat identik dengan bidang permasalahan yang dihadapi—tetapi termasuk pula yang seiring dan berkaitan (collateral). Fungsi peninjauan kembali pustaka yang berkaitan merupakan hal yang mendasar dalam penelitian, seperti dinyatakan oleh Leedy (1997) bahwa semakin banyak seorang peneliti mengetahui, mengenal dan memahami tentang penelitian-penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya (yang berkaitan erat dengan topik penelitiannya), semakin dapat dipertanggung jawabkan caranya meneliti permasalahan yang dihadapi. Walaupun demikian, sebagian penulis (usulan penelitian atau karya tulis) menganggap tinjauan pustaka merupakan bagian yang tidak penting sehingga ditulis “asal ada” saja atau hanya untuk sekedar membuktikan bahwa penelitian (yang diusulkan) belum pernah dilakukan sebelumnya. Pembuktian keaslian penelitian tersebut sebenarnya hanyalah salah satu dari beberapa kegunaan tinjauan pustaka. Kelemahan lain yang sering pula dijumpai adalah dalam penyusunan, penstrukturan atau pengorganisasian tinjauan pustaka.

Banyak penulisan tinjauan pustaka yang mirip resensi buku (dibahas buku per buku, tanpa ada kaitan yang bersistem) atau mirip daftar pustaka (hanya menyebutkan siapa penulisnya dan di pustaka mana ditulis, tanpa membahas apa yang ditulis). Berdasar kelemahan-kelemahan yang sering dijumpai di atas, tulisan ini berusaha untuk memberikan kesegaran pengetahuan tentang cara-cara penulisan tinjauan pustaka yang lazim dilakukan. Cakupan tulisan ini meliputi empat hal, yaitu: (a) kegunaan, (b) organisasi tinjauan pustaka, (c) kaitan tinjauan pustaka dengan daftar pustaka, dan (d) cara pencarian bahan-bahan pustaka, terutama dengan memanfaatkan teknologi informasi.

Kegunaan Tinjauan Pustaka
Leedy (1997, hal. 71) menerangkan bahwa suatu tinjauan pustaka mempunyai kegunaan untuk: (1) mengungkapkan penelitian-penelitian yang serupa dengan penelitian yang (akan) kita lakukan; dalam hal ini, diperlihatkan pula cara penelitian-penelitian tersebut menjawab permasalahan dan merancang metode penelitiannya; (2) membantu memberi gambaran tentang metoda dan teknik yang dipakai dalam penelitian yang mempunyai permasalahan serupa atau mirip penelitian yang kita hadapi; (3) mengungkapkan sumber-sumber data (atau judul-judul pustaka yang berkaitan) yang mungkin belum kita ketahui sebelumnya; (4) mengenal peneliti-peneliti yang karyanya penting dalam permasalahan yang kita hadapi (yang mungkin dapat dijadikan nara sumber atau dapat ditelusuri karya -karya tulisnya yang lain—yang mungkin terkait); (5) memperlihatkan kedudukan penelitian yang (akan) kita lakukan dalam sejarah perkembangan dan konteks ilmu pengetahuan atau teori tempat penelitian ini berada; (6) menungkapkan ide-ide dan pendekatan-pendekatan yang mungkin belum kita kenal sebelumya; (7) membuktikan keaslian penelitian (bahwa penelitian yang kita lakukan berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya); dan (8) mampu menambah percaya diri kita pada topik yang kita pilih karena telah ada pihakpihak lain yang sebelumnya juga tertarik pada topik tersebut dan mereka telah mencurahkan tenaga, waktu dan biaya untuk meneliti topik tersebut.
PENULISAN SKRIPSI

Penulisan skripsi untuk semua jenis penelitian disajikan dalam lima bab sebagai berikut:
Bab I : Pendahuluan
Bab II : Tinjauan Pustaka
Bab III : Metode Penelitian
Bab IV : Hasil Penelitian dan Bahasan
Bab V : Simpulan dan Saran
Untuk lebih lanjut: Lihat Buku Pedoman Penulisan Skripsi yang berlaku di Institusi anda!

Setiap penulisan dari bab ke bab dianggap perlu untuk menyajikan alinea pembuka/penghubung berisi uraian pengantar yang menjelaskan keterkaitan bab yang bersangkutan dengan bab sebelumnya. Alinea penghubung ini ditulis dalam alinea pertama dari setiap awal bab.

Adapun penjelasan secara rinci sebagai berikut :
I. PENDAHULUAN
a. Latar Belakang Permasalahan
b. Rumusan Permasalahan
c. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
PENJELASAN
a. Latar Belakang Permasalahan
1) Latar Belakang Permasalahan merupakan penjelasan fenomena yang diamati dan menarik perhatian peneliti dan bukan merupakan alasan pemilihan judul.
2) Latar Belakang Penelitian apabila memungkinkan dapat didukung oleh data penunjang, yang dapat digali dari sumber utama dan/atau sumber kedua seperti Biro Pusat Statistik, hasil penelitian terdahulu, jurnal dan internet
3) Latar Belakang Penelitian memuat hasil penelitian terdahulu (dari jurnal) dengan menyebutkan sumber jurnal yang dipakai sebagai referensi.
4) Apabila perusahaan (sebagai sumber utama) belum menyajikan laporan keuangan, misalnya rasio keuangan (financial ratio), maka dalam Latar Belakang Penelitian disajikan minimal 3 periode atau tahun.

b. Rumusan Permasalahan
1) Rumusan permasalahan disajikan secara singkat dalam bentuk kalimat tanya, yang isinya mencerminkan adanya permasalahan yang perlu dipecahkan atau adanya permasalahan yang perlu untuk dijawab.
2) Rumusan permasalahan merupakan inti penelitian, sehingga bisa dipakai pertimbangan menyusun judul dan hipotesa

c. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1) Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian merupakan sasaran yang hendak dicapai oleh peneliti sebelum melakukan penelitian dan mengacu pada permasalahan. Berikut ini beberapa contoh cara pengungkapan tujuan penelitian yang umumnya diawali dengan kalimat tujuan penelitian adalah untuk …………. atau penelitian ini bertujuan untuk …………………dan sebagainya.

2) Kegunaan Penelitian
Kegunaan penelitian, menguraikan kontribusi yang diharapkan dari hasil penelitian itu sendiri.

2. TINJAUAN PUSTAKA
a. Kerangka Teori
b. Hipotesis Penelitian
PENJELASAN
a. Kerangka Teori
1) Kerangka teori sebaiknya menggunakan acuan yang berhubungan dengan permasalahan yang diteliti dan acuan-acuan yang berupa hasil penelitian terdahulu (bisa disajikan di Bab II atau dibuat sub-bab tersendiri)
2) Cara penulisan dari subbab ke subbab yang lain harus tetap mempunyai keterkaitan yang jelas dengan memperhatikan aturan penulisan pustaka.
3) Penulisan nama pengarang dalam Endnotes atau Footnotes yang bersumber dari kepustakaan tidak perlu mencantumkan gelar akademik.
4) Untuk memperoleh hasil penelitian yang baik, studi pustaka harus memenuhi prinsip kemutakhiran dan keterkaitannya dengan permasalahan yang ada. Apabila menggunakan literatur dengan beberapa edisi, maka yang digunakan adalah buku dengan edisi terbaru, jika referensi tidak terbit lagi, referensi tersebut adalah terbitan terakhir. Dan bagi yang menggunakan Jurnal sebagai referensi pembatasan tahun terbitan tidak berlaku.
5) Semakin banyak sumber bacaan, semakin baik, dengan jumlah minimal 10 (sepuluh) sumber, baik dari teks book atau sumber lain misalnya jurnal, artikel dari majalah, Koran, internet dan lain-lain.
6) Pedoman kerangka teori di atas berlaku untuk semua jenis penelitian.
7) Dalam kerangka teori, peubah dicantumkan sebatas yang diteliti dan dapat dikutip dari dua atau lebih karya tulis/bacaan.
8) Teori bukan merupakan pendapat pribadi (kecuali pendapat tersebut sudah ditulis di BUKU)
9) Pada akhir kerangka teori bagi penelitian korelasional disajikan model teori, model konsep (apabila diperlukan) dan model hipotesis pada subbab tersendiri, sedangkan penelitian studi kasus cukup menyusun Model teori dan beri keterangan. Model teori dimaksud merupakan kerangka pemikiran penulis dalam penelitian yang sedang dilakukan. Kerangka itu dapat berupa kerangka dari ahli yang sudah ada, maupun kerangka yang berdasarkan teori-teori pendukung yang ada. Dari kerangka teori yang sudah disajikan dalam sebuah skema, harus dijabarkan jika dianggap perlu memberikan batasan-batasan, maka asumsi-asumsi harus dicantumkan.
b. Hipotesis Penelitian
Jika penelitian bersifat korelasional maka:
1) Hipotesis penelitian beraspek empiris disajikan pada akhir bab II dalam sub-sub tersendiri dengan memperhatikan teori pendukungnya, sedangkan hipotesis penelitian beraspek statistik disajikan dalam bab III.
2) Apabila analisis data (akhir bab IV) direncanakan tidak untuk menganalisis data secara luas baik masalah utama (mayor) maupun bagian-bagiannya (minor) maka dalam hipotesis tidak perlu dicantumkan hipotesis mayor dan minor.
3) Hipotesis harus berlandaskan teori, jika ingin mengubah harus mencantumkan alasan mengapa merubah teori tersebut.

3. METODE PENELITIAN
a. Lokasi Penelitian
b. Tipe/Jenis Penelitian
c. Populasi dan Sampel
d. Jenis dan Sumber Data
e. Teknik Pengumpulan Data
f. Teknik Analisis Data

PENJELASAN
a. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian menentukan faokus penelitian ini dilakukan di wilayah (tempat) mana, dan dasar pertimbangan apa sehingga memilih lokasi penelitian tersebut.
b. Jenis Penelitian
Penelitian bisa bersifat kuantitaif maupun kualitatif, misalnya:
1) Historis;
2) Deskriptif;
3) Perkembangan;
4) Kasus dan penelitian lapangan;
5) Korelasional;
6) Kausal komparatif;
7) Eksperimen murni;
8) Eksperimen semu;
9) Kaji tindak.
1) Pemilihan jenis penelitian dilakukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan berikut:
a) Daya tarik permasalahan;
b) Kesesuaian dengan kemampuan dan latar belakang pendidikan;
c) Tersedianya alat dan kondisi kerja;
d) Kesesuaian dengan kemampuan untuk mengumpulkan data yang diperlukan;
e) Kesesuaian dengan waktu, tenaga dan biaya;
f) Resiko kegagalan.
2) Jenis penelitian dimaksud dapat dilacak dari judul, latar belakang permasalahan dan tujuan penelitian, sehingga dapat dijelaskan alasan penentuan jenis penelitian tertentu tanpa menyajikan definisi jenis penelitian itu sendiri.
c. Populasi dan Sampel
• Populasi merupakan sekumpulan orang atau objek yang memiliki kesamaan dalam satu atau beberapa hal dan yang membentuk masalah pokok dalam suatu riset khusus. Populasi yang akan diteliti harus didefinisikan dengan jelas sebelum penelitian dilakukan.” (Santoso & Tjiptono, 2002, 79)
• Sampel adalah semacam miniatur (mikrokosmos) dari populasinya” (Santoso & Tjiptono, 2002, 80)
d. Jenis dan Sumber Data
Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer adalah data empirik atau data lapangan yang dikumpulkan secara langsung dari responden dan informan yang telah dipilih sesuai kriteria yang sudah ditentukan. Sedangkan data sekunder adalah data yang tersedia di tempat penelitian.
e. Teknik Pengumpulan Data
Teknik/Metode pengumpulan data misalnya:
1) “Wawancara dapat dilakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur, dan dapat dilakukan melalui tatap muka (face to face) maupun dengan menggunakan telpon.
2) Kuesioner (angket) dapat dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.
3) Observasi merupakan suatu proses yang komplek , suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikologis. Dua di antara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan.” (Sugiyono, 2003, 130-141)
4) Studi Dokumentasi, yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan mempelajari berbagai literatur dan dokumen-dokumen lain yang relevan, serta kebijakan-kebijakan yang telah ditempuh.
f. Teknik Analisis Data
Teknik/Metode analisis disesuaikan dengan Rumusan Permasalahan pada Bab I Jika metode analisis menggunakan regresi dengan Ordinary Least Square (OLS) Estimators, maka uji asumsi klasik harus dilakukan. Lihat buku “Ekonometrika Dasar” oleh Damodar Gujarati alih bahasa Sumarno Zain, 2000.
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif digunakan untuk menganilisis data-data berupa pernyataan, pendapat dengan melalui tahap pengumpulan, pengeditan data, dan penarikan kesimpulan. Analisis kuantitatif dimaksudkan untuk mengolah data angka berkaitan dengan pokok penelitian. Untuk analisis kuantitatif dapat digunakan rumus:

Keterangan :
P = Persentase yang ingin diketahui
f = Jumlah (frekwensi) tiap item dalam kategori
N = Jumlah keseluruhan dalam tiap kategori

4. HASIL PENELITIAN DAN BAHASAN
a. Penyajian Data
Pada subbab ini dipaparkan data yang ada relevansinya dengan topik skripsi.
b. Analisis Data dan Interpretasi

5. SIMPULAN DAN SARAN
a. Simpulan
b. Saran

PENJELASAN
1) Simpulan menjelaskan butir-butir temuan (hasil penelitian dan bahasan) yang disajikan secara singkat dan jelas.
2) Saran-saran merupakan himbauan kepada instansi terkait maupun peneliti berikutnya yang berdasarkan pada hasil temuan. Saran sebaiknya selaras dengan topik penelitian

B. Teknik Pengumpulan Data Penelitian
Banyak cara yang dapat di tempuh oleh peneliti untuk mengumpulkan data penelitian, yaitu :
1. Studi dokumen atau kepustakaan;
2. Angket atau skala;
3. Wawancara;
4. Pengematan (observasi ); dan
5. Tes atau eksperimen.
Cara pengumpulan data yang sebaiknya dipergunakan tergantung pada ruang lingkup dan tujuan penelitian hukum yang akan dilakukan, terutama tergantung pada tipe data yang dibutuhkan. Meskipun demikian, tipe data manapun yang ingin diperoleh, selalu terlebih dahulu harus dilakukan studi kepustakaan.

1. Studi Dokumen atau Kepustakaan

Studi dokumen atau kepustakaan adalah kegiatan mengumpulkan dana memeriksa atau menelusuri dokumen – dokumen atau kepustakaan yang dapat memberi informasi atau keteranagan yang dibutuhkan oleh peneliti. Hal – hal yang perlu mendapatkan perhatian dalam studi dokumen atau kepustakaan adalah sebagai berikut.
1. Adakalanya data sekunder dianggap sebagai data yang tuntas
2. Autentisitas data sekunder harus diteliti secara iritis sebelum diterapkan pada penelitian yang dilakukan sendiri;
3. Apabila tidak ada penjelasan sukar untuk mengetahui metode yang dipergunakan dalam pengumpulan dan pengolahan data sekunder tersebut.
4. Sering kali sukar untuk mengetahui secara pasti lokasi terhimpunnya data sekunder tersebut.

Studi dokumen atau pustaka salam penelitian hukum bertujuan untuk menemukan bahan – bahan hukum baik yang bersifat primer maupun sekunder. Bahan – bahan hukum inilah, baik yang primer maupun sekunder yang akan dipecahkan sebagai masalah hukum (Macam –macam bahan hukum dapat dilihat pada catatan halama 96).

2. Angket atau Skala

a. Pengertian

Angket adalah alat pengumpulan data yang pada umumnya dipergunakan untuk mendapatkan data dari popilasi yang luas yang terdiri dari beraneka ragam golongan atau kelompok yang tersebar. Fungsinya dalah sebagai berikut.

1. Untuk mendapatkan deskripsi mengenai suatu gejala tertentu,
2. Untuk keperluan pengurkuran variabel dari individu-individu maupun kelompok,
3. Dengan memperoleh suatu gambaran melalui penggunaan angket, peneliti dapat memperoleh pengetahuan yang mendalam mengenai suatu gejala, mampu menjelaskan suatu gajala tersebut bahkan dapat membuat prediksi-prediksi.

b. Macam-macam Angket.
Berdasarkan jawaban pada angket, dapat dibedakan macam-macam angket, yaitu sebagai berikut.
1. Angket tertutup (disebut skala), misalnya skala sikap, ciri-ciri angket tertutup (skala) adalah sebagai berikut.
a. Angket terdiri dari pertanyaan-pertanyaan atau bisa juga pernyataan yang berisi beberapa kemungkinan jawaban untuk dipilih.
b. Pengolahan dan analisis kuantitaif akan lebih mudah dilakukan pada hasil angket ini.
c. Peneliti sudah mempunyai asumsi yang kuat bahwa responden mengetahui materi yang akan disajiakn dalam angket itu.
d. Peneliti mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai sampel yang diteliti sehingga peneliti akan dapat mengadakan antisipasi terhadap jawaban-jawaban yang mungkin diberikan.
e. Mudah dilakukan pengolahan datanya.

2. Angket terbuka.

Ciri-ciri angket terbuka adalah sebagai berikut.
a. Pertanyaan harus dijawab dengan memberikan penjelasan yang mungkin singkat dan mungkin panjang.
b. Tipe ini digunakan apabila pengetahuan peneliti mengenai sampel sedikit sekali dan berguna untuk memperoleh pengetahuan yang lebih mendalam tentang responden atau informasi yang diinginkan daripadanya.
c. Sukar untuk mengolah dan menganailis hasilnya, yaitu membuat kalsifikasi jawaban-jawaban.

3. Angket kombinasi.
Ciri-ciri angket kombinasi, adalah sebagai berikut.

a. Disamping jawaban-jawaban yang tersedia, peneliti masih memberikan kemungkinan untuk mengisi jawaban yang terbuka.
b. Dapat mengurangi kelemahan-kelemahan masing-masing tipe angket tersebut.
c. Datanya lebih kaya tapi sulit mengolah datanya untuk pertanyaan dengan jawaban terbuka.

c. Cara Membuat Angket.

Membuat angket pada umumnya dilakukan setelah suatu konsep yang ingin diteliti atau diukur didefinisikan secara jelas disertai indikator-indikatornya. Definisi tersebut sudah harus dapat ditumpahkan dalam wujud pertanyaan. Dengan perkataan lain, definisi yang dimaksudkan sudah harus operasional (Ancok D., 1995).

Misalnya, seorang peneliti ingin meneliti atau mengukur suatu konsep yang berkaitan dengan masalah ‘Perlindungan Hukum Penumpang Kapal Laut’. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencari konsep perlindungan hukum penumpang kapal. Kosep tersebut dapat dicari dalam literatur-literatur yang dikemukakan oleh para ahli, dalam peraturan perundang-undangan, kamus, dan sebagainya. Kemudian peneliti harus menyusun konsep tersebut hingga betul-betul dapat dioperasionalkan menjadi pertanyaan-pertanyaan. Sebelum diwujudkan menjadi pertanyaan-pertanyaan, peneliti harus menetapkan terlebih dahulu indikator-indikaktor dari konsep tersebut.

Tabel berikut ini merupakan contoh penetapan indikator-indikator perlindungan hukum konsumen kapal laut.

Tabel 3. Indikator-indikator Perlindungan Hukum
Konsumen Kapal Laut

Aspek yang diukur Indikator
Aturan hukumnya
• Ada aturan hukum/tidak
• Isinya jelas/tidak
• Dapat dipahami/tidak
• Ditaati/tidak
Pemenuhan Hak-haknya
• Hak keselamatan terpenuhi/tidak
• Hak kenyamanan terpenuhi/tidak
• Hak atas informasi terpenuhi/tidak
• Hak atas ketepatan waktu terpenuhi/tidak
• Hak atas advokasi terpenuhi/tidak
Tanggung Jawab Pelaku Uasaha • Barang rusak diganti/tidak
• Barang hilang diganti/tidak
• Barang tidak sampai diganti/tidak
• Barang hilang diganti/tidak
• Keterlambatan diganti rugi/tidak
Keberadaan Lembaga
Perlindungan Konsumen
• Ada/tidak
• Jika ada berfungsi efektif /tidak
• Mudah diakses/tidak

Sumber : M.Syamsudin, 2002.

Dari indikator-indikator tersebut kemudian diturunkan menjadi pertanyaan-pertanyaan dalam angket seperti contoh berikut ini.

Contoh angket kombinasi :

1. Menurut pendapat anda dalam pelaksanaan pengangkutan penumpang, apakah ada aturan hukum yang mengaturnya ?.
( ) Tidak ada
( ) Ada

2. Jika terdapat aturan hukumnya, apakah dalam pelaksanaannya ditaati ?
( ) Selalu ditaati
( ) Kadang-kadang ditaati, kadang-kadang tidak, alasanya
( ) Tidak ditaati, alasannya

3. Apakah pihak pengangkut memperhatikan hak atas keselamatan anda ?
( ) Selalu memperhatikan
( ) Kadang-kadang memperhatikan, alasannya
( ) Tidak memperhatikan, alasannya

4. Jika terjadi kehilangan barang bawaan, apakah pihak pengangkut bertanggung jawab atas hal terebut ?
( ) Selalu
( ) Kadang-kadang, dilihat siapa yang bersalah
( ) Tidak, alasannya

5. Jika terjadi keterlambatan, apakah pihak pengangkut bertanggung jawab atas hal tersebut ?
( ) Selalu, dalam bentuk :
( ) Kadang-kadang, dilihat siapa yang bersalah
( ) Tidak, alasannya

6. Dan seterusnya.

d. Hal-hal Yang Harus Dihindarkan dalam Pembuatan Angket

Membuat angket atau skala perlu perhatikan hal-hal sebagai berikut .

1. Hindarkan pertanyaan atau pernyataan yang dapat menimbulkan lebih dari satu pengertian.
2. Hindarkan pertanyaan atau pernyataan yang tidak relevan dengan dimensi konsep yang akan diukur.
3. Hindarkan pertanyaan atau pernyataan yang diperkirakan orang akan menjawab setuju atau tidak setuju.
4. Gunakan bahasa yang mudah dimengerti, jelas, dan sesingkat mungkin.

d. Pengujian dan penyebaran angket

Setelah angket disusun secara lengkap, langkah selanjutnya adalah melakukan uji coba (try out) untuk mengetahui validitas dan reliabilitas angket tersebut. Validitas yakni apakah angket tersebut mampu mengukur apa yang ingin diukur, sejauh mana suatu alat pengukur betul-betul mengukur apa yang perlu diukur. Timbangan hanya valid untuk mengukur berat, tidak valid untuk mengukur panjang, sebaliknya, meteran hanya valid bila dipakai untuk mengukur panjang. Reliabilitas, yaitu tingkat kepercyaan angket tersebut dalam mendapatkan data (Azwar, 1997).

Berbagai cara dapat ditempuh oleh peneliti untuk menyebarkan dan mengumpulkan angket. Untuk melakukan penyebaran angket, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut.

1. Jika respondenya banyak, sebaiknya dilakukan dengan bantuan tenaga lapangan, akan tetapi jika peneliti sendiri memungkinkan penyebaran semua kuesioner yang telah dibuat, hal itu lebih baik sehingga peneliti lebih tahu kondisi lapangan sebenarnya.

2. Jika peneliti menggunakan bantuan tenaga lapangan, sebelum terjun ke lapangan para tenaga lapangan itu perlu mendapatkan pembekalan/briefing terlebih dahulu sehingga kuesioner yang disebarkan tepat sasaran dan tidak banyak membuang energi.

3. Peneliti perlu memikirkan waktu yang tepat untuk menyebarkan kuesioner, dan jika perlu responden setelah mengisi kuesioner, diberikan tanda penghargaan (souvenir.

3. Wawancara

a. Pengertian

Wawancara adalah cara untuk memperoleh informasi dengan bertanya langsung pada yang diwawancarai. Wawancara merupakan suatu proses interaksi dan komunikasi. Hasil wawancara ditentukan oleh beberpa faktor yang berinteraksi dan mempengaruhi arus informasi. Faktor-faktor tersebuit adalah :

1. Pewawancara;
2. Yang diwawancarai;
3. Topik penelitian yang tertuang dalam pertanyaan ; dan
4. Situasi wawancara.

Pewawancara menyampaikan pertanyaan-pertanyaan kepada yang diwawancarai untuk menjawab, menggali jawaban lebih dalam, dan mencatat jawaban dari yang diwawancarai. Syarat untuk menjawab pewawancara yang baik adalah memiliki ketrampilan mewawancarai, memiliki motivasi yang tinggi, dan memiliki rasa aman agar tidak ragu-ragu dan takut menyampaikan pertanyaan.
Pihak yang diwawancarai menyampaikan jawaban-jawaban dari pertanyaan yang disampaikan pewawancara sehingga mutu jawaban yang diberikan tergantung kepada apakah ia dapat menangkap isi pertanyaan dengan tepat serta bersedia menjawab dengan baik. Topik penelitian atau hal-hal yang ditanyakan dapat mempengaruhi kelancaran dan hasil wawancara karena kesediaan yang diwawancarai untuk menjawab tergantung pada apakah ia tertarik pada masalah itu atau tidak.

Situasi wawancara ialah situasi yang timbul karena faktor-faktor waktu, tempat, ada tidaknya orang ketiga dan sikap masyarakat pada umumnya.

b. Langkah-langkah Melakukan Wawancara.

Sebelum wawancara dimulai, pewawancara harus berusaha menciptakan hubungan baik dengan yang diwawancarai. Usaha demikian ini disebut menggunakan rapport. Rapport ialah suatu situasi psikologis yang menunjukkan bahwa yang diwawancarai bersedia bekerja sama, bersedia memberikan jawaban dan informasi yang benar. Hubungan baik dalam wawancara ini terjadi apabila yang diwawancarai merasa bebas untuk memberikan informasi tanpa adanya tekanan-tekanan, bahkan terangsang untuk berbicara. Dalam melaksanakan tugas melakukan wawancara, pewawancara harus sadar bahwa pewawancara membutuhkan yang diwawancarai dan bukan sebaliknya.

Untuk mencapai tujuan wawancara, pewawancara perlu memperhatikan hal-hal diantarnya :
1. Berpakaian sederhana dan rapi;
2. Bersikap rendah hati:
3. Bersikap hormat pada yang diwawancarai:
4. Bersikap ramah dalam sikap dan ucapan tetapi efesien tanpa banyak basa-basi; dan
5. Bersikap penuh pengertian terhadap yang diwawancarai dan bersikap netral dan adil terhadap semua yang diwawancarai:
6. Bersikap sebagai pendengar yang bai, pada waktu yang diwawancarai memberikan jawaban.

Kunjungan ketempat tinggal atau ketempat kerja yang diwawancarai diusahakan secara terencana supaya hasilnya dapat dicapai semaksimal mungkin. Perlu diutamakan kunjungan ke yang diwawancarai yang bertempat tinggal berdekatan. Perlu dipilih waktu yang tepat untuk berkunjung dengan memperhatikan jenis dan jadwal pekerjaan yang diwawancarai. Sebaiknya yang diwawancarailah yang menentukan waktu wawancara. Kunjungan pewawancara sebaiknya dilakukan seorang diri dan pada waktu wawancarai hanya seorang diri pula.

c. Syarat-syarat Wawancara.
Wawancara memerlukan beberapa syarat, yaitu sebagai berikut.

1. Sebelum wawancara dilakukan pewawancara sudah harus tahu hal-hal yang nantinya akan ditanyakan dan tidak boleh mngarang-ngarang pertanyaan seadanya.

2. Sebagai pendahuluan dari wawancara yang sebenarnya pewawancara harus terlebih dahulu menciptakan hubungan baik (rapport). Hal ini penting untuk menghilangkan kecemasan orang yang diwawancarai, memberikan jaminan padanya bahwa jawaban-jawabannya tidak akan menimbulkan konsekuensi yang merugikan dirinya dan membangkitkan keinginan untuk bekerja sama.

3. Selama wawancara berlangsung pewawancara harus waspada dalam menghadapi saat-saat kritis, yaitu ketika yang diwawancarai mulai mengalami kesukaran untuk tetap memberikan jawaban yang sebenarnya. Kesultian ini dapat timbul karena pertanyaan yang diberikan terasa menyangkut segi kehidupan yang sangat mendalam atau jawaban yang jujur dirasakan oleh yang bersangkutan sebagai hal yang mengancam harga dirinya. Dalam hal demikian ini, pewawancara harus mampu memelihara situasi yang baik dengan berbagai cara. Misalnya, dengan mengalihkan pembicaraan ke topik yang lain dan baru kemudian mengulangi kembali ke pertanyaan yang menimbulkan saat kritis tadi atau dalam emnghadapi jawaban yang tidak jujur, pewawancara harus siap dengan pertanyaan desakan (probe question) yaitu pertanyaan-pertanyaan yang bertujuan menjebak jawaban yang benar. Dalam melakukan desakan ini harus dijaga agar yang diwawancarai tidak merasa dipojokkan dan kemudian merasa tidak senang kepada pewawancara. Ketidaksenangan yang di wawancarai akan merusak suasana kerjasama.

4. penutup wawancara hendaknya merupakan usaha agar yang di wawancarai tidak merasa (habis manis sepah dibuang).

d. Tipe-tipe Wawancara

Berdasarkan pada peran wawancara dapat dibedakan tipe-tipe wawancara yaitu :

1. Wawancara tidak terarah:
2. Wawancara terarah:
3. Wawancara yang difokuskan:
4. Wawancara mendalam: dan
5. Wawancara yang diulang-ualng.

Ciri utama wawancara tidak terarah (non-directive interview) adalah seluruh wawancara tidak didasarkan pada suatu sistem atau daftar pertanyaan yang telah disusun terlebih dahulu. Pewawancara tidak memberikan pengarahan yang tajam, tetapi diserahkan kepada yang diwawancarai untuk memberikan penjelasan menurut kemauannya sendiri. Wawancara demikian ini juga disebut (free flowing interview). Keuntungan penggunaan wawancara tipe ini anatar lain ;

1. Mendekati keadaan yang sebenarnya karena didasarkan kepada spontanitas yang diwawancarai ;
2. Lebih mudah untuk mengidentifikasikan masalah yang diajukan oleh pewawancara ; dan
3. Lebih banyak kemungkinan untuk menjelajahi berbagai aspek dari masalah yang ajukan.

Kelemahan penggunaan wawancara tipe ini antara lain adalah :

1. Sukar untuk membandingkan hasil wawancara yang satu dengan yang lain ;
2. Sering terjadi tumpang tindih dalam pengumpulan data ;
3. Sukar untuk mengolah data dan mengadakan klasifikasi, sehingga harus disediakan banyak waktu dan tenaga yang sebenarnya tidak perlu.

Pada wawancara terarah (direvtive interview), terdapat pengarahan atau struktur tertentu, yaitu :

1. ada rencana pelaksanaan wawancara;
2. mengatur daftar pertanyaan serta membatasi jawaban-jawaban;
3. memperhatikan karakteristik pewawancara maupun yang diwawancarai;
4. membatasi aspek-aspek masalah yang diperiksa.
5. menggunakan daftar pertanyaan yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu.

Wawancara yang difokuskan (focused interview) adalah wawancara dimana yang diwawancarai mempunyai pengalaman melakukan tingkah laku-tingkah laku bersama-sama dengan pelaku utama yang menjadi objek penelitian. Wawancara dilakukan untuk akibat-akibat dari pengalaman-pengalaman itu terhadap para pelaku peserta dengan cara menyoroti akibat-akibat aktual dari pengalaman-pengalaman sebagaimana yang digambarkan oleh para pelaku peserta. Penggunaan wawancara yang difokuskan didasarkan pada asumsi bahwa dengan mempergunakan tehnik tersebut akan diungkapkan reaksi-reaksi pribadi, perasaan-perasaan, dan faktor-faktor mentalitas. Untuk itu, diperlukan persiapan dari pihak pewawancara berupa kepakaan terhadap situasi yang dihadapi.

Wawancara mendalam (deep interview) merupakan prosedur yang dirancang untuk membangkitkan pernyataan-pernyataan secara bebas yang dikemukakan bersungguh-sungguh secara terus terang. Apabila dilakukan dengan hati-hati dan dengan keahlian yang tinggi, wawncara mendalam dapat mengungkapkan aspek-aspek penting dari suatu situasi psikologis yang tidak mungkin diketahui untuk memahami tingkah laku-tingkah laku yang diamati serta pendapat-pendapat dan sikap-sikap yang dilaporkan. Dalam penerapannya, wawancara mendalam memerlukan suatu keahlian dan ketrampilan tertentu dari pihak pewawancara. Apabila kemampuan dan ketrampilan tersebut tidak dimiliki, sebaiknya tidak dipergunakan wawancara mendalam sebagai tehnik pengumpulan data penelitian. Kadang-kadang diterapkan dengan cara agresif dengan tidak memberikan waktu keapada yang di wawancarai untuk berhenti sebentar dalam memberikan jawaban. Cara demikian ini disebut “rapid fire question”.

Wawancara yang diulang-ulang (repeated interview) adalah wawancara yang berguna untuk menelusuri perkembangan proses-proses sosial atau psikologis tertentu agar diketahui segi-segi dinamis dari saksi-saksi manusia serta faktor-faktor yang mempengaruhi pola-pola tingkah laku tertentu dalam situasi tertentu. Wawancara demikian ini memakan waktu lama, biaya yang tinggi dan membutuhkan banyak tenaga yang mempengaruhi pembentukan pola-pola tingkah laku. Datanya dapat ditabulasikan dan dianalisis secara kuantitatif, sehingga dapat ditarik generalisasi secara statistik (Soemitro., 1988).

4. Pengamatan atau Observasi

a. Pengertian
Pengamatan atau observasi adalah kegiatan pengumpulan data penelitian dengan cara melihat langsung objek penelitian yang menjadi fokus penelitian. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengamatan merupakan pengamatan ilmiah adalah sebagai berikut.

1. Pengamatan harus didasarkan pada suatu kerangka penelitian ilmiah.
2. Pengamatan harus dilakukan secara sistematis, metodologis, dan konsisten.
3. Pencatatan data hasil pengamatan juga harus dilakukan secara sistematis, metodologis, dan konsisten.
4. Dapat diuji kebenarannya secara empiris.

Ruang lingkup dan ciri-ciri pokok pengamatan ilmiah adalah:

1. mencakup seluruh konteks sosial dimana tingkah laku yang diamati terjadi;
2. mengidentifikasi semua peristiwa penting yang mempengaruhi hubungan antara orang-orang yang diamati.
3. mengidentifikasi apa yang sungguh-sungguh merupakan kenyataan;
4. mengidentifikasi keteraturan-keteraturan dengan cara mengadakan perbandingan dengan situasi-situasi sosial lain.

b. Bentuk-bentuk Pengamatan atau Observasi.

Bentuk –bentuk pengamatan terdriri dari sebagai berikut.

1. Pengamatan sistematis dan pengamatan tidak sistematis.
Pengataman sistematis merupakan cara pengamatan yang terikat pada syarat-syarat seperti yang telah diuraikan sebelumnya. Sementara itu pengamatan tidak sistematis dilakukan secara tidak sengaja dan untuk maksud-maksud yang kurang jelas bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Pengamatan sistematis juga disebut pengamatan berstruktur karena terikat oleh suatu struktur tertentu sebagai suatu kegiatan.

2. Pengamatan terlibat (participant obervation) dan pengamatan pengamatan tidak terlibat (nonparticipant observation).
Pada pengamatan terlibat (participant observation) pengamatan menjadi bagian dari konteks sosial yang sedang diamati. Selama kehadiran pengamat tidak mengubah situasi sosial yang ada, pengamatan terlibat merupakan tehnik yang ideal. Akan tetapi, mungkin timbul faktor-faktor yang mengurangi kebenaran hasil pengamatan tersebut. Misalnya pengamat terlibat secara emosional. Selain itu, ada situasi tertentu yang membuat peneliti sukar sekali untuk menjadi pengamat terlibat. Misalnya pengamatan terhadap pelanggar-pelanggar hukum, seperti pembunuh, perampok, pencuri, pelacur, penjudi, dan lain sebagainya. Sementara itu, pengamatan tidak terlibat, pengamat tidak beralih menjadi kelompok yang diamati. Hal ini seringkali menimbulkan kesulitan bagi pengamat karena hubungan antara pengamat dengan yang diamati menjadi formal dan kaku, dan meungkinkan munculnya kecurigaan-kecurigaan pada pihak yang diamati. Pengamat harus memiliki ketrampilan tertentu agar sikap curiga dan prasangka dapat dihilangkan.

c. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Pengamatan

Dalam memilih pengamatan sebagai tehnik untuk mengumpulkan data, peneliti mempertimbangkan hal-hal antara lain;

1. masalah yang diteliti;
2. ketrampilan dan ciri-ciri pengamat;
3. ciri-ciri yang diamati.

Apabila data yang harus dikumpulkan menyangkut beberapa aspek kehidupan sehari-hari, tidak ada pilihan lain selain mengadakan pengamatan pada saat itu juga. Kerangka teoretis tertentu mensyaratkan pengumpulan data dengan mempergunakan tehnik pengamatan, misalnya yang menyangkut etnometodologi., fenomenologi, interaksienisme. Dalam penelitian-penelitian semacam itu, pengamatan dipergunakan sebagai tehnik pengumpulan data yang utama.

Penyelenggaraan pengamatan akan berjalan lancar apabila tidak timbul halangan-halangan yang berasal dari pihak yang diamati. Untuk itu, ada beberapa ciri-ciri pihak yang diamati yang perlu diperhatikan oleh peneliti. Ciri-ciri tersebut antara lain menyangkut faktor-faktor :

1. pekrjaan;
2. ekonomi;
3. politik dan hukum;
4. kebudayaan khusus (sub-culture); dan
5. sifat normatif.

Berkaitan dengan faktor pekerjaan, kadang-kadang proses pengamatan terikat pada situasi birokrasi dan profesi, dimana pengamat harus tunduk pada izin dan persyaratan yang ditentukan untuk mengadakan pengamatan. Misalnya pada ruang lingkup tertentu saja, dengan penggunaan alat-alat yang ditentukan.

Berkaitan dengan faktor ekonomi, pengalaman para pengamat di negara-negara lain menunjukkan bahwa lebih mudah mengadakan pengamatan terhadap orang-orang dengan status ekonomi rendah daripada terhadap orang-orang dengan status ekonomi yang tinggi.

Berkaitan dengan faktor politis dan hukum ada golongan-golongan tertentu yang secara politis tidak boleh diganggu dengan pengamatan-pengamatan. Mislanya mereka yang menduduki jabatan tinggi. Keadaan demikian ini disahkan oleh hukum, baik hukum tertulis maupun hukum tidak tertulis.

Berkaitan dengan faktor kebudayaan khusus, dalam masyarakat kadang-kadang terdapat kebudayaan khusus yang berlawanan (counter culture) dengan kebudayaan umum. Kebudayaan khusus semacam ini seringkali menolak pengamatan-pengamatan terhadap mereka.

Berkaitan dengan faktor normatif, pengamat perlu sekali mempertimbangkan norma hukum, norma kesusilaan, norma kesopanan, norma kepercyaan yang berlaku dalam masyarakat yang menjadi objek pengamatan (Soemitro, 1998).

Pengolahan dan Analisis Data

1. Pengertian

Pengolahan dan analsis data kualitatif lebih menenkankan analisisnya pada proses penyimpulan dedekatif dan induktif serta pada dinamika hubungan antarfenomena yang diamati, dengan menggunakan logika ilmiah. Ini bukan berarti bahwa akualitatif sama sekali tidak menggunakan dukungan data kuantltatif, tetapi penekanannya tidak pada pengujianan hipotesis melainkan pada usaha menjawab pertanyaan penelitian melalui cara cara berpikir formal dan argumentatif.

Data kulitatif merupakan data yang tidak berbentuk angka, tetapi lebih banyak berupa narasi, cerita, dokumen tertulis dan tidak tertuliss, (gambar dan foto) atau bentuk bentuk non angka lain. Berbeda dengan pengolahan data analisis kuantitatif yang mempunyai tehnik dan cara yang jelas untuk mengukur validitas, reliabilitas, atau signifikansi perbedaan pengolahan dan analisis data kualitatif data kualitatif tidak mempunyai rumus atau aturan yang pasti. Akan tetap, bukan berarti tidak memiliki pedoman tentang prosedur yang harus dijalani berkenaan dengan pengolahan dan analisis data kualitatif. Hal yang harus selalu diingat oleh peneliti adalah, apa pun bentuk analisis yang dilakukan, peneliti wajib memonitor dan melaporkan proses dan prosedur analisisnya sejujur dan selengkap mungkin (Pumandari, 2005).

2. Cara Pengolahan atau Pengorganisasian Data Kualitatif

Tahap awal peneliti memperlakukan data kualitatif adalah menata atau mengorganisasikan data. Dengan data kualitatif yang banyak dart hasil pengumpulan data, menjadi kewajiban peneliti untuk mengorganisasikan data tersebut secara rapi, sistematis, dlan selengkap mungkin. Organisasi data yang siste¬matis memungkinkan peneliti untuk: (Purwandari, 2005)

1. memperoleh kualitas data yang baik;

2. mendokumentasikan analisis yang dilakukan; dan

3. menyimpan data dan analisis yang berkaitan dergan perryelesaian penelitian.

Hal hal penting yang patut disimpan dan dilakukan pengorganisasian data adalah.

1. data mentah yang berupa catatan lapangan, kaset hasil rekaman;

2. data yang sudah diproses sebagiannya, misalnya transkrip hasil/wawancara, catatan refleksi peneliti;

3. data vang sudlah ditandai atau dikode spesifik;

4. penjabaran kode kode dan kategori kategori secara luas melalui skema;

5. memo dan draft insight untuk analisis data (refleksi konseptual peneliti mengenai arti konsep data);

6. catatan pencarian dan penernuan yang disusun untuk memudahkan pericarian berbagai katagori data;

7. display data melalui skema atau jaringan informasi dalam bentuk padat atau esensial;

8. episode analisis (dokumentasi dari langkah langkah dan proses penelitian);

9. dokumentasi umum yang kronologis mengenai pengumpulan data dan langkah analisis;

10. daftar indeks dart ternuan material;

11. teks laporan (draft vang tert 1 menerus ditambah diperbaiki).

Seperti pada pengolahan data hantitatif, pada pengoh data kualitatif juga dilakukan kegiatan koding. Koding dilaki dengan menempuh langkah langkah sebagal beriKut.

1. Peneliti menyusun transkrip verbatim (kata demi kata) caiatan lapangannya sedemkian rupa sehingga ada kolom kosong yang cukup besar di sebelah kiri dan kanan transkip. Hal ini untuk memudahkan kode kode atau catatan catatan tertentu di atas transkrip tersebut.

2. Peneliti secara urut dan kontinu melakukan penornoran pada baris haris transkrip atau catatan lapangan tersebut.

3. Peneliti memberikan nama untuk masing masing berkas dengan kode tertentu. Kode yang dipilih haruslah kode yang mudah diingat dan dianggap paling tepat mewakili berkas tersebut. Jangan lupa untuk selalu membubuhkan tanggal di setiap berkas.

a. Pedoman dalam wawancara (Singarimbun dan Effendi, 1982:159-161):

Persiapan Sebelum Wawancara
1. Pelajari dan kuasailah kuesioner
2. Cobakan kuesioner itu kepada diri sendiri, untuk mengetes apakah kita tahu benar maksud pertanyaan itu. Lalu cobakan pada orang lain (kawan) untuk latihan.
3. Pikirkan jam berapa yang cocok untuk menemui responden mengingat pekerjaan mereka.
4. Ulangilah membaca instruksi, juga selama wawancara.

Taktik Wawancara:
1. Usahakan pada waktu wawancara hanya responden yang hadir. Tidak ada anggota keluarga atau teman responden yang ikut hadir. Pewawancara pun seyogyanya tidak membawa teman.
2. Reaksi/jawaban pertama terhadap suatu pertanyaan itulah pendapat responden sesungguhnya. Karena itu kalau responden berubah pendapat setelah pindah ke pertanyaan lain, janganlah dihapus jawaban pertama tadi.
3. Jangan tergesa-gesa menulis jawaban “tidak tahu”. Sering responden menjawab “tidak tahu” untuk hal yang sebenarnya sedang ia pikirkan dan timbang-timbang. Karena itu, tunggulah sejenak. Kita harus sabar.
4. Pada jawaban “ya” atau “tidak” sering responden menambahkan keterangan “ya kalau ……”, “ya, tetapi tidak……” Dalam hal ini tulislah lengkap, meskipun ini dimaksudkan jawaban tertutup.
5. Semua komentar responden tulislah dengan lengkap. Kata-kasta yang diucapkannya untuk melukiskan perasaan adalah sangat penting.
6. Jawaban responden sebelum dicatat harus dimengerti maksudnya. Kalau belum jelas, tanyakan lagi. Jawaban harus khusus, jangan terlalu umum ataupun mempunyai dua arti.
7. Usahakan sambil menulis tetap berbicara. Berilah pertanyaan yang mengajak dia berpikir, jangan dibiarkan responden menanti terlalu lama, karena dapat menimbulkan kebosanan.
8. Selesai wawancara, periksalah kuesioner dengan teliti untuk menjaga agar tidak ada unsur-unsur pertanyaan yang terlampaui.

Kode Etik bagi Pewawancara:
1. Jujur dalam pengisian kuesioner.
2. Cermat.
3. Objektif dalam menyampaikan pertanyaan, netral, tidak mempengaruhi respor)denvdalam menangkap maksud pertanyaan dan menjawabnya.
4. Jujur dalam mencatat jawaban.
5. Tulislah jawaban responden selengkapnya, persis seperti yang diungkapkannya. Tulisan harus jelas, terbaca oleh siapapun. Jangan menggunakan singkatan.
6. Menaruh perhatian dan penuh perhatian pada responden.
7. Sanggup membuat responden tenang dan bersalera untuk menjawab kuesioner.
8. Hargailah responden. Apapun tanggapan saudara tentang dia, lupakan itu. Responden sangat penting bagi kita.

Alat-alat yang Perlu Dibawa:
1. Bloknote saku.
2. Bloknote sedang.
3. Pensil lebih dari satu. Selalu gunakanlah pensil supaya dapat dihapus kalau salah.
4. Karet penghapus.
5. Kuesioner ekstra, cadangan kalau rusak.
6. Pengasah pensil.
7. Stopmap folio.
8. Hardboard untuk menulis, kalau dirasa perlu.
9. Surat pengantar/surat pengantar diri.
10. Surat ijin survai.
11. Daftar responden.
12. Peta.

Sikap Pewawancara:
1. Netral. Tugas pewawancara untuk merekam informasi tanpa menghiraukan apakah kita menganggap keterangan itu baik, tidak baik, menjemukan, ataupun menyenangkan. Jangan menentang atau bereaksi terhadap jawaban responden, baik dengan kata-kata maupun dengan gerakan. Misalnya menyatakan setuju, heran, merendahkan dan sebagainya. Hindarilah sugesti.
2. Adil, tidak memihak. Sopan dan hormat kepada responden. Semua responden kita perlakukan sama baik, siapapun dia. Renting untuk dapat memberikan perasaan aman bagi responden untuk menyatakan pendapatnya.
3. Hindarkanlah ketegangan. Wawancarailah secara obrolan. Hindari kesan bahwa seolah-olah responden sedang diuji. Tetapi harus waspada jangan sampai responden bercerita kesana-kemari. Dengan sopan kita mengembalikan perhatian responden kepada pertanyaan kita.
4. Ramah. Sikap ramah sangatlah penting. Bermuka cerah, segar, tidak malas. Kesan yang kita berikan akan berpengaruh kepada responden.

b. Penyusunan Daftar Pertanyaan (Kuesioner)
Kuesioner merupakan suatu instrumen pengumpulan data dalam penelitian sosial. Dengan kuesionertersebut peneliti menggali informasi dari responden (orang yang menjadi subyek penelitian). Dengan demikian pertanyaan-pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan informasi (data) yang diperlukan untuk memecahkan masalah atau menguji hipotesis penelitian. Karena itu perlu dihindari pertanyaan yang tidak relevan dengan masalah penelitian atau pertanyaan yang tidak diperlukan dalam analisis pemecahan masalah dan atau membuktikan kebenaran hipotesis.

TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL

Sampling dilakukan karena dalam penelitian sulit untuk meneliti semuanya (populasi). Ini bisa kita bandingkan dengan seorang koki yang mencoba merasakan atau mencicipi sesendok (sampel) sayur yang sedang dimasaknya dalam panci besar (populasi).1
Jelaslah, bahwa dengan sampling kita memilih subjek (individu) atau objek (benda) yang diambil dari suatu kesatuan atau keseluruhan untuk mendapatkan gambaran mengenai kesatuan atau keseluruhan tersebut. Dalam hal memasak tadi, kita tidak perlu mencicipi sepanci sayur untuk menyatakan sayur tersebut sudah enak atau belum. Dengan mencicipi sesendok sayur saja, kita bisa mengganggap bahwa semua sayur dalam panci tadi persis sama rasanya (uniform).
Tetapi bila anggapan itu benar, tidak menjadi persoalan. Masalahnya, dalam penelitian ilmu-ilmu sosial, sampel yang diambil tidak selalu menjamin adanya uniformitas. Sebagai contoh, penelitian tentang kesadaran hukum masyarakat Indonesia. Sampelnya diambil di Jakarta untuk populasi Indonesia. Peneliti berkesimpulan bahwa masyarakat Indonesia kesadaran hukumnya tinggi. Dalam hal ini kita boleh tidak merasa pasti atau menolak kesimpulan tersebut. Kita boleh melakukan penelitian yang sama dengan mengambil sampel masyarakat kota legal misalnya.
Jadi dapat dikatakan bahwa sebetulnya dalam mengambil kesimpulan dari sampel ke populasi, kita sedang mengambil kesimpulan induktif. Kesimpulan induktif selalu berupa generalises!, atau kesimpulan itu diambil dari sejumlah peristiwa khusus untuk diberlakukan pada suatu hal yang umum. Pada penarikan kesimpulan secara induktif kita mengamati sejumlah peristiwa khusus dan kemudian mengambil kesimpulan yang berupa generalisasi yang dapat berlaku atas kejadian sejenis pada waktu yang akan datang. Banyak generalisasi induktif berdasarkan fakta, tetapi banyak juga yang hanya berupa asumsi atau andaian. Andaian itu ialah fakta atau pernyataan yang dianggap benar walaupun belum atau tidak dapat dibuktikan kebenarannya.
Sebaliknya, jika kita akan memberlakukan suatu kesimpulan umum atau suatu teori terhadap peristiwa khusus, kita berkesimpulan secara deduktif.

7.1 Probability Sampling
Dalam probability sampling, peneliti menarik sampel dengan cara memberikan kesempatan yang sama bagi setiap manusia atau unit dalam populasi untuk terpilih sebagai unsur dalam sampel. Misalnya mahasiswa Fakultas Hukum Atma Jaya ada 350 orang. Bila sampel yang akan digunakan ada 10 orang, maka setiap mahasiswa Fakultas Hukum Atma Jaya mendapat kesempatan yang sama untuk terpilih dalam sampel, yakni 1/350.
Penerapan probability sampling merupakan tata cara satu-satunya untuk memungkinkan menarik kesimpulan yang representatif bagi populasi yang diteliti. Peneliti secara objektif mengambil sampel untuk diamati tanpa memilih menurut kemauannya sendiri. Beberapa cara dapat kita pakai dalam teknik ini.

(1) Simple Random Sampling
Jika sebuah mata uang logam kita lemparkan dengan bebas, kemungkinannya adalah bahwa kita akan memperoleh kepala atau ekornya. Kemungkinan timbul atau tidaknya sesuatu kejadian itu disebut probabilitas kejadian. Dalam hal penarikan sampel dengan cara simple random sampling, dapat kita lakukan dengan cara lotere atau ‘Table
Random Number”.
a. Lotere: misalnya dengan menggunakan kertas-kertas kecil yang ditulis nama-nama calon responden yang akan dijadikan sampel, lalu digulung, dan kita ambil sejumlah gulungan kertas sejumlah yang telah kita tetapkan.
b. Table Random Number: pengambilan sampel dengan menggunakan suatu daftar angka yang telah dibuat oleh para ahli berdasarkan penelitian-penelitian yang telah berulang kali dilakukan. Cara penggunaannya adalah sebagai berikut:
• tentukan terlebih dahulu jumlah sampel yang akan diteliti, misalnya X35 mahasiswa dari populasi 350 mahasiswa;
• buat daftar nama 350 mahasiswa tersebut (kerangka sampling) dan beri nomor dari 1 hingga 350;
• cari nomor dalam tabel “Random number” yang angkanya 350 ke bawah, dan jika sudah mencapai 35 orang, kita berhenti mencari;
• caranya, 350 itu terdiri dari tiga digit, lalu kita lihat dalam tabel, ambil angka dengan tiga digit, lalu urut ke bawah, dan kita akan menemukan angka-angka yang besarnya tidak lebih dari 350;

sebagai contoh:
• angka tiga digit pertama dalam tabel tersebut adalah 100, lalu lihat angka-angka dengan tiga digit di bawah angka 100 tersebut.yakni 375, 084, 990, 128, 660, 310 dan seterusnya.
• angka pertama dengan tiga digit dan bernomor tidak lebih dari 350 adalah 100, dan kemudian 084, 128, 310 dan seterusnya hingga berjumlah 35 nomor.
• nomor 100 adalah responden pertama penelitian kita, dalam kerangka sampel kita lihat siapa nama mahasiswa nomor 100 tersebut, dan seterusnya.
• apabila sampai angka terakhir di dalam tabel tersebut (angka 917 pada halaman 173) kita belum mendapatkan sejumlah sampel yang kita inginkan, yakni 35 orang, kita teruskan dengan cara menggeser angka pada awal tabel dengan tetap menggunakan tiga digit. Dalam hal ini adalah 009, 754, 842 dan seterusnya.
(2) Proportionate Stratified Random Sampling

Ini dilakukan bila kita mengetahui apa yang akan kita teliti itu berlapis-lapis atau bertingkat-tingkat. Misalnya, populasi yang akan kita teliti itu tentara, dalam hal ingin mengetahui pengetahuan mereka dalam bidang hukum. Karena dalam kelompok ini kita beranggapan bahwa pengetahuan mereka bergantung pada pangkatnya: Jenderal, Kolonel, Kapten, Letnan, Sersan Major, dan seterusnya. Jika kita tidak memperhatikan lapisan ini, mungkin sampel yang diambil hanya akan terdiri dari para jenderal saja, sehingga kesimpulan yang diambil tentunya hanya akan berlaku bagi kelompok jenderal.

Dalam hal penelitian mengenai kesadaran hukum mahasiswa Atma Jaya, misalnya diambil 10% sampel, ciari populasi mahasiswa yang berjumlah 4000 orang:

Fakultas
populasi
sampel

FIP
100
10%x100
= 10

FT
700
10%x700
= 70

FH
200
10%x200
= 20

FK
500
10%x500
= 50

FIA
1000
10%x1000
=100

FE
1500
10%x1500
=150

Jumlah
4000
400

Selanjutnya, karena di tiap fakultas sendiri mahasiswa terdiri dari berbagai tingkatan (semester 1 hingga semester 8 misalnya), maka masing-masing tingkatan perlu diwakili pula, karena itu kita perlu menarik sampel sebagai berikut:
untuk FH:

FH
populasi
sampel

semester 1
60
10% x 60 = 6

semester 2
30
10% x 30 = 3

semester 3
20
10% x 20 = 2

semester 4
20
10% x 20 = 2

semester 5
10
10% x 10 = 1

semester 6
20
10% x 20 = 2

semester 7
10
10% x 10 = 1

semester 8
30
10% x 30 = 3

Jumlah
200
20

Untuk fakultas lainnya dilakukan dengan cara yang sama, sehingga semua tingkat (semester) diwakili oleh mahasiswa dalam sampel yang diambil. Dalam hal FH, 20 mahasiswa yang dijadikan sampel mewakili seluruh mahasiswa FH. Siapa ke 20 mahasiswa tersebut? dapat kita cari dengan jalan menyusun kerangka sampling dan menggunakan tabel “Random number”.

(3) Disproportionate Stratified Random Sampling
Di sini tidak ditarik sampel yang proporsional di tiap strata dalam populasi. Dalam hal ini peneliti memberikan tekanan yang seimbang pada setiap strata atau memberikan tekanan yang lebih besar pada strata tertentu.
a. Dalam suatu lembaga kemasyarakatan terdapat 1000 orang narapidana yang terdiri dari:

jenis kejahatan
jumlah
sampel

pencurian
500
10(2%)

penipuan
150
10 (6,7%)

perampokan
140
10(7,1%)

perjudian
100
10(10%)

pemerkosaan
100
10(10%)

korupsi
10
10(100%)

Jumlah
1000
v 60(6%)

Dari setiap strata diambil 10 orang. Berarti sampel dari setiap jenis kejahatan diwakili oleh proporsi yang tidak sama (tidak proporsional), yakni masing-masing 2%, 6,7%, 7,1%, 10%, 10% dan 100%.
b. Dalam hal lain mungkin peneliti menarik sampel untuk jenis kejahatan pencurian, penipuan, perampokan, perjudian dan pemerkosaan menurut proporsi yang seimbang, yakni 10%. Tetapi karena jumlah korupsi hanya sedikit, yakni 10, lalu peneliti mengambil semuanya untuk diteliti. Ini berarti sampel untuk korupsi sebesar 100%. Penarikan sampel ini juga tidak proporsional.

(4) Area (Cluster) Random Sampling
Obyek penelitian di sini adalah wilayah atau kelompok, dan bukan individu-individu. Misalnya kita akan meneliti pengaruh lingkungan sosial daerah “pelacuran” terhadap kepatuhan hukum warga masyarakat. Jika di Jakarta ada 10 lokasi, kita sampling secara random 2 lokasi saja.

(5) Systematic Random Sampling
Dilakukan dengan cara memberi nomor responden (kerangka sampling), lalu kita tarik responden pertama dengan cara lotere. Responden (sampel) selanjutnya ditarik menurut skala yang kita tentukan. Misalnya ada 50 kepala keluarga dalam satu RT. Kita beri nomor 1 hingga 50.
Sampel kita ditentukan 10 kepala keluarga atau sebesar20% atau 1/5. Dalam hal ini skala yang kita pakai adalah 5. Responden pertama berdasarkan lotere misalnya nomor 4. Selanjutnya responden ke 2 adalah ke lima dari nomor 4 yakni nomor 9; responden ke 3 adalah ke lima dari nomor 9 yakni nomor 14; begitu seterusnya hingga memperoleh 10 responden. Jika sampai nomor ke 50 kita belum memperoleh 10 responden sebagai sampel, kita dapat meneruskannya ke nomor 1 kembali (seperti lingkaran).

(6) Multistage Random Sampling
Sampling bertingkat banyak ini dilakukan secara bertahap yang terdiri dari dua tahap atau lebih (cara 1 hingga 5).

7.2 Non-Probability Sampling
Cara ini tidak menggunakan dasar atau teori probabilitas. Dasar utamanya adalah logika dan “common-sense” (akal sehat) saja. Cara ini digunakan apabila informasi mengenai populasi kurang atau tidak diketahui. Cara ini tidak dapat dipakai untuk membuat generalisasi karena tuntutan probabilitas sebagai dasar generalisasi tidak dipenuhi.

a. Accidental Sampling
Sampel diambil secara kebetulan. Cukup meninjau tempat peristiwa yang diteliti dan mewawancari orang-orang yang kebetulan berkerumun melihat peristiwa tersebut. Untuk mengetahui pendapat orang mengenai suatu film, peneliti cukup mewawancari orang-orang yang baru saja selesai menonton.

b. Quota Sampling
Hampir sama dengan accidental sampling. Bedanya terletak pada ruang lingkupnya. Pada quota (jatah) sampling peneliti berusaha untuk memasukan ciri-ciri tertentu mengenai respondennya menurut yang dikehendakinya. Dalam hal contoh penonton film, peneliti menetapkan dulu ciri-ciri penonton, misalnya penonton yang sudah memiliki anak, dan minimal menonton film 1 kali sebulan.

c. Purposive/Judgmental Sampling
Hampir sama dengan quota sampling. Bedanya, jika quota sampling menentukan ciri pada individunya, maka dalam purposive ciri yang ditetapkan adalah kelompoknya. Misalnya kelompok kalangan hukum: orang-orang yang bekerja di pengadilan, kejaksaan, kepolisian, dosen-dosen fakultas hukum dan sebagainya.

d. Snowball Sampling
Menentukan satu atau beberapa responden. Melalui responden tersebut ditelusuri responden lainnya. Misalnya, untuk meneliti pemakaian bahasa prokem. Jika kita sudah punya satu atau^ dua responden yang biasa menggunakan bahasa itu, kita tanya kepadanya siapa-siapa saja temannya yang bisa dihubungi untuk diwawancarai.

7.3 Besarnya Sampel
Dalam memilih tata cara sampling, biasanya seorang peneliti akan mempertimbangkan faktor-faktor: populasi, biaya, serta faktor yang mempengaruhi kelancaran untuk memperoleh data yang diperlukan (waktu). Makin besar sampel yang digunakan, makin besar kemungkinan sampel tersebut mewakili populasi. Ada pendapat bahwa sampel yang relatif memadai adalah 10% dari populasi. Sampel yang tidak mewakili populasi disebut “bias”.
Tetapi untuk penelitian secara kuantitatif, terutama dalam hal untuk menguji hipotesis dan melakukan generalisasi, perlu digunakan statistika untuk menentukan besarnya sampel yang mewakili (representatif) populasi. Untuk itu diharapkan para peneliti mempelajari statistika atau meminta bantuan ahli statistika. Sebagai contoh diberikan salah satu proses pengambilan besarnya sampel dengan cara Stratified Random Sampling:

CONTOH BESARNYA (UKURAN) SAMPEL (n):
dengan cara Stratified Random Sampling
Populasi TKI di Desa Sukasari, Cianjur, berjumlah 382 orang:

Desa Sukasari
TKI sudah kembali
TKI masih di luar negeri
Junrtlah

Pria Wanita
Pria Wanita

Dusun Cilaku
32 40
v 19 36
127

Dusun Cilaku Hilir
10 22
8 37
77

Dusun Gegerbitung
10 22
12 43
87

Dusun Cijati
7 25
5 17
54

Dusun Palasari
7 11
4 15
37

66 120
48 148
382

(1) Rumus sampling: n =

n = besarnya sampel N = populasi
Nh = populasi tiap strata
Sh 2 – variance
d = standard error of the mean
Z = reliability

(2) The value of reliability
Reliabilty in percentage value 80% 90% 95% 99%
Z 1.290 1.645 1.960 1.575
(3) Sh2 = variance untuk desa sukasari tidak diketahui. Karena itu diadakan pilot studi dengan mengambil 60 keluarga TKf secara random untuk diketahui pengeluaran rata-rata anggota rumah tangga TKI yang sudah kembali (30 keluarga) dan TKI yang belum kembali (30 keluarga).
Dari pilot studi diketahui pengeluaran anggota rumah tangga TKI masih di luar negeri Rp 40.330,- dan yang sudah kembali Rp 41 .600,- per bulan.

Rumus
n = jumlah sampel
x{ = pengeluaran anggota keluarga
x = pengeluaran rata-rata anggota keluarga
Sh2 = untuk rumah tangga TKI masih di luar negeri diperoleh = 914.78
Sh2 = untuk rumah tangga TKI sudah kembali diperoleh = 401 .15
(4) N ‘h.Sh2 rumah tangga TKI masih di luar negeri = 196 x 914.78 = 179,296.88
Nh .Sh 2 rumah tangga TKI sudah kembali = 1 86 x 401 . 1 5 = 74,631 .90
Jumlahnya = 179,296.88 + 74,631.90 = 253,910.78
(5) Dari pilot studi diketahui pengeluaran anggota rumah tangga TKI masih di luar negeri Rp 40.330,- dan yang sudah kembali Rp41.600,-perbulan.
Peneliti (secara subyektif) menetapkan tingkat kesalahan rata-rata pengeluaran rumah tangga tersebut sebesar Rp 2.500,-artinya pengeluaran untuk masing-masing kelompok di atas paling rendah kurang dari Rp 2.500,- dan paling besar lebih dari Rp 2.500,- Dengan demikian standard error of the mean (d) adalah Rp 2.500,- atau karena dalam perhitungan adalah per seribuan, maka d=2.5
(6) Jadi jumlah sampel yang dianggap sesuai untuk penelitian ini adalah : (382) (253,910.78)
Jadi:
jumlah sampel (n) rumah tangga TKI yang masih di luar negeri=
(196:382) x 198 = 102
jumlah sampel (n) rumah tangga TKI yang sudah kembali=
(186:382)x198 = 96
Jumlah sampel untuk masing-masing dusun:

Dusun Cilaku:
Rumah tangga TKI yang masih di luar negeri = (55:196) x 102 =29
Rumah tangga TKI yang sudah kembali = (72:186) x 96 =37

Dusun Cilaku Hilir:
Rumah tangga TKI yang masih di luar negeri = (45:196) x 102 =23
Rumah tangga TKI yang sudah kembali = (32:186) x 96 =17

Dusun Gegerbitung:
Rumah tangga TKI yang masih di luar negeri = (55:196) x 102 =29
Rumah tangga TKI yang sudah kembali = (32:186) x 96 =17

Dusun Cijati:
Rumah tangga TKI yang masih di luar negeri = (22:196) x 102 =11
Rumah tangga TKI yang sudah kembali = (32:186) x 96 =17

Dusun Palasari:
Rumah tangga TKI yang masih di luar negeri
Rumah tangga TKI yang sudah kembali
———oQo———
= (19:196) x 102 =10 = (18:186) x 96 =9

Comments are closed.

%d bloggers like this: